Matkul Metodologi Studi Islam eps. 07



BAB VI
ISU-ISU AKTUAL DALAM STUDI ISLAM

A.    Pluralisme
Pluralisme yaitu meyakini agama yang dianut sebagai yang paling benar dan secara sosial harmonis dengan kelompok atau agama yang berbeda. Kehidupan beragama itu tidak hanya berlangsung secara linier, tetapi juga sirkuler. Dinamika ini antara lain digerakkan oleh konflik yang disebabkan adanya pluralitas.
Konflik bisa terjadi dimana saja, mulai dari lingkup sosial terkecil, yaitu keluarga, relasi antar tetangga, antar kampung, antar etnis, hingga komunitas yang jauh lebih besar, yaitu negara. Terjadinya konflik berangkat dari prasangka. Solusinya yaitu; cerdas secara emosi, spiritual, jiwa sosialnya tinggi. Fenomena konflik berlatar agama sesungguhnya melahirkan paradoks dalam agama sendiri.
Pluralisme sering dikaitkan dengan relativisme, yaitu tidak ada kebenaran mutlak (yaitu salah). Selain itu, juga ada yang menyamakan pluralisme dengan sinkretisme, sehingga terjadi agama sikh yaitu penggabungan agama islam dengan hindu dan itu tidak boleh.
Terjadinya konflik karena tidak adanya dialog, substansinya mencari solusi. Mengembangkan dialog dapat dilakukan dalam empat tingkat bagi  komunikasi manusia; dialogue of hearts, dialogue of life, dialogue of peace, dialogue of silence (dialog ini terjadi ketika sudah matang secara spiritual).
Untuk menghasilkan hubungan inklusif antar agama melalui dialog; 1) belajar mengubah dan mengembangkan presepsi dan pengertian tentang realitas. 2) dialog antar agama harus merupakan suatu proyek dua pihak-intern masyarakat. 3) setiap peserta dialog harus mengikuti dialog dengan kejujuran dan ketulusan. 4) setiap peserta dialog harus mendefinisikan dirinya sendiri. 5) harus mengakui dialog tanpa asumsi-asumsi yang kukuh dan trrgesa-gesa. 6) dialog hanya bisa dilakukan antara pihak-pihak yang setara. 7) dialog harus dilaksanakan atas dasar saling percaya. 8) orang-orang yang memasuki arena dialog antar agama, paling kurang harus bersikap kritis. 9) dalam dialog antar agama orang tidak boleh membandingkan idealismenya dengan praktek mitra dialognya.

NB : bukan merubah keyakinan, tetapi mengembangkan pemahaman.

B.     Fundamentalisme
Yaitu orang atau kelompok yang mengalami GAP (jurang) idealitas dan realitas. Eksistensinya tidak banyak dikenal, seperti orang pindahan yang tertutup dan tidak banyak dikenal masa lalunya oleh lingkungan sekitar dan pada akhirnya seperti kasus di Mangunsari sekitar dua tahun yang lalu tertangkapnya pengikut aliran ISIS. Aliensinya (orang yang terasing) dari budaya, politik, ekonomi. Fundamentalisme menjadi begitu populer karena pada saat-saat gerakan milenial (sesuatu yang indah dimasa depan).
Ciri-ciri fundamentalisme; 1) oposisionalisme. 2) penolakan terhadap harmeneutika. 3) penolakan terhadap pluralisme dan relativisme. 4) penolakan terhadap perkembanagan historis dan sosiologis.

NB : sifat ilmu yaitu suatu ketika di masa depan akan berguna.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar