BAB VI
ISU-ISU AKTUAL DALAM STUDI ISLAM
A.
Pluralisme
Pluralisme
yaitu meyakini agama yang dianut sebagai yang paling benar dan secara
sosial harmonis dengan kelompok atau agama yang berbeda. Kehidupan beragama itu
tidak hanya berlangsung secara linier, tetapi juga sirkuler. Dinamika ini
antara lain digerakkan oleh konflik yang disebabkan adanya pluralitas.
Konflik
bisa terjadi dimana saja, mulai dari lingkup sosial terkecil, yaitu keluarga,
relasi antar tetangga, antar kampung, antar etnis, hingga komunitas yang jauh
lebih besar, yaitu negara. Terjadinya konflik berangkat dari prasangka.
Solusinya yaitu; cerdas secara emosi, spiritual, jiwa sosialnya tinggi.
Fenomena konflik berlatar agama sesungguhnya melahirkan paradoks dalam agama
sendiri.
Pluralisme
sering dikaitkan dengan relativisme, yaitu tidak ada kebenaran mutlak (yaitu
salah). Selain itu, juga ada yang menyamakan pluralisme dengan sinkretisme,
sehingga terjadi agama sikh yaitu penggabungan agama islam dengan hindu dan itu
tidak boleh.
Terjadinya
konflik karena tidak adanya dialog, substansinya mencari solusi. Mengembangkan
dialog dapat dilakukan dalam empat tingkat bagi
komunikasi manusia; dialogue of hearts, dialogue of life, dialogue of
peace, dialogue of silence (dialog ini terjadi ketika sudah matang secara
spiritual).
Untuk
menghasilkan hubungan inklusif antar agama melalui dialog; 1) belajar mengubah
dan mengembangkan presepsi dan pengertian tentang realitas. 2) dialog antar
agama harus merupakan suatu proyek dua pihak-intern masyarakat. 3) setiap
peserta dialog harus mengikuti dialog dengan kejujuran dan ketulusan. 4) setiap
peserta dialog harus mendefinisikan dirinya sendiri. 5) harus mengakui dialog
tanpa asumsi-asumsi yang kukuh dan trrgesa-gesa. 6) dialog hanya bisa dilakukan
antara pihak-pihak yang setara. 7) dialog harus dilaksanakan atas dasar saling
percaya. 8) orang-orang yang memasuki arena dialog antar agama, paling kurang
harus bersikap kritis. 9) dalam dialog antar agama orang tidak boleh
membandingkan idealismenya dengan praktek mitra dialognya.
NB : bukan merubah keyakinan, tetapi
mengembangkan pemahaman.
B.
Fundamentalisme
Yaitu
orang atau kelompok yang mengalami GAP (jurang) idealitas dan realitas.
Eksistensinya tidak banyak dikenal, seperti orang pindahan yang tertutup dan
tidak banyak dikenal masa lalunya oleh lingkungan sekitar dan pada akhirnya
seperti kasus di Mangunsari sekitar dua tahun yang lalu tertangkapnya pengikut
aliran ISIS. Aliensinya (orang yang terasing) dari budaya, politik, ekonomi.
Fundamentalisme menjadi begitu populer karena pada saat-saat gerakan milenial
(sesuatu yang indah dimasa depan).
Ciri-ciri
fundamentalisme; 1) oposisionalisme. 2) penolakan terhadap harmeneutika. 3)
penolakan terhadap pluralisme dan relativisme. 4) penolakan terhadap
perkembanagan historis dan sosiologis.
NB : sifat ilmu yaitu suatu ketika di
masa depan akan berguna.






0 komentar:
Posting Komentar