Pertemuan
kali ini masih berlanjut di bab yang sama yaitu Dinamika Perkembangan Studi
Islam, dilanjut pada point yang ke-2 yaitu;
B. Studi Islam di Barat
Sebelum Indonesia merdeka, orang
Indonesia tidak ada yang mengenyam studi Islam di barat. Focus studi islam baru
dimulai dilakukan setelah Indonesia merdeka. Studi yang dilakukan oleh orang
Indonesia mengambil konsentrasi di bidang ekonomi, politik, pemerintahan, dan
belum ada yang mengambil focus khusus
studi islam. Studi islam di barat tidak mempelajari ilmu ushulludin, akan
tetapi hanya mempelajari “Pluralistic Approach”
Orang Indonesia yang pertama kali
melakukan studi islam di barat adalah M. Rasjidi, pada tahun 1954 beliau
menamatkan program doctor di Universitas Sorbone Perancis. Tokoh lain yang
melakukan studi islam di barat pasca Rasjidi adalah Harun Nasution, beliau
memulai studi islam di McGill Kanada pada 20 september 1962 dan memperoleh
pandangan islam yang luas. Harun sangat intens mengembangkan studi islam
sebagai centre of excellence. Tokoh lain yang juga memiliki peranan
penting dalam studi islam di barat adalah A. Mukti Ali yang menggagas tentang
dua hal yaitu; riset of religion dan comparative of religion. Setelah
generasi mereka, muncul puluhan intelektual
yang juga menempuh Studi Islam di Barat diantaranya adalah Nurcholish
Madjid, A. Syafi’i Ma’arif, Azyumardi Azra, M Atho’ Mudzhar, M. Dien
Syamsuddin, Syafiq A. Mughni, Achmad Jainuri, Thoha Hamim, dan Akh. Minhaji.
Para alumni Barat ini memiliki pengaruh dan kontribusi besar dalam studi Islam
di Indonesia.
Kajian islam yang dilakukan di barat
mencakup tiga model pendekatan, yaitu; 1) pendekatan filologis, yang hanya
mempelajari dari naskah-naskah islam dan belum tentu cocok, maka dari itu
disempurnakan dalam model pendekatan yang ke-2) pendekatan ilmiah, yang
melakukan pendidikan langsung ke masyarakat tanpa melihat teks, 3) pendekatan
fenomenologi-interpetatif, melihat obyek secara natural (tafsir).
NB;
Sesungguhnya Islam itu yang mengajarkan pendidikan kebersihan pertama kali,
tapi kenapa realitanya di Indonesia malah seperti ini :(
Bacaan kita, lingkungan kita, itu semua yang akan membentuk kita.






0 komentar:
Posting Komentar